![]() |
| Foto : LKP Rinjani Rengganis |
LOMBOK TIMUR - Atraksi seni budaya dan tarian khas Sasak ditampilkan dalam acara kenaikan tingkat lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Sanggar Seni dan Budaya Rinjani Rengganis di Dusun Kedome, Desa Ketapang Raya, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, Minggu (28/12).
Aksi peserta yang diikuti dari kalangan pelajar mulai tingkat SD, SMP hingga SMA/SMK menarik perhatian semua kalangan. Bahkan, dukungan pemerintah daerah (Pemda) membuat LKP Sanggar Seni dan Budaya Rinjani Rengganis menjadi berkembang.
Buktinya, peserta yang mengikuti kursus pelatihan dengan cara gratis itu dari waktu ke waktu kian bertambah.
Pentas seni mengawali acara yang disponsori Yayasan Asthapura Nusantara Rinjani Foundation dan dihadiri Camat Keruak, Azhar, S.Pd, Kabid Kebudayaan Dikbud Lotim, Abdul Hayyi serta Forkompimda dan masyarakat setempat.
Camat Keruak, Azhar, S.Pd lagi-lagi mengaku bersyukur atas inisiasi sanggar seni dalam upaya menciptakan generasi penerus terutama di bidang seni dan budaya.
Kesempatan ini kata Azhar, dapat dimanfaatkan secara kontinyuitas oleh masyarakat dan para pelajar dalam mengembangkan budaya lokal.
"Kita dimanjakan dengan kehadiran teknologi digital tapi kita lupa dengan adat budaya lokal. Mari lestarikan dan kembangkan seni budaya Sasak melalui sanggar ini," ajak Azhar, Minggu (28/12).
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidka6dan Kebudayaan Lotim, Abdul Hayyi mengapresiasi inisiatif Sangar Seni Rinjani Rengganis sebagai lembaga pendidikan non formal mengembangkan budaya Sasak.
Apalagi, dalam pelaksanaanya kegiatan mulia ini justru digratiskan kepada peserta yang ingin mengikuti pelatihan ini.
"Bagi kami luar biasa. Tidak ada kegiatan pelatihan seperti ini yang sifatnya gratis. Tapi ini malah digratiskan," ujar Hayyi.
Karenanya, sanggar seni ini perlu didukung keberadaannya dalam rangka melahirkan generasi penerus yang cinta akan seni budaya daerah.
Hayyi mengakui bahwa seluruh dokumen pendirian dan operasional LKP sanggar Seni Rinjani Rengganis ini dinyatakan lengkap.
Namun, untuk memperoleh bantuan dana operasional dari pemerintah pusat dibutuhkan 2 tahun sejak mulai didirikannya.
Menariknya, tambah Hayyi, di Sangar Seni ini pun terdapat museum kecil yang menyimpan sejarah budaya warisan leluhur.
Kekaguman Hayyi didasari pada banyaknya benda-benda bersejarah yang tersimpan rapi ditenoat Bale Lumbung yang patut dijaga dan dilestarikan keberadaannya.
"Semua pihak sepatutnya mendukung keberadaan Bale Lumbung ini, apalagi terdapat benda-benda sejarah yang tersimpan didalamnya," tandasnya.
Pemerintah selaku pemangku kebijakan baik dari tingkat pusat hingga desa dapat mendukung penuh kehadiran museum kecil ini sebagai museum desa.
Sementara itu, Ketua Yayasan Asthapura Rinjani Rengganis, M. Hazaeny, SH, tak menampik jika kegiatan yang diselenggarakan sejak berdirinya sanggar seni ini tidak lepas dari bantuan semua pihak.
Hj. Saina selaku 'funding' sekaligus inisiator berdirinya lembaga pendidikan dan pelatihan ini memiliki peran besar dalam menjaga dan melestarikan budaya daerah Sasak.
Tak kalah pentingnya, bantuan pihak luar yang mendonasikan rezekinya untuk eksistensi budaya Sasak ini patut pula diapresiasi.
"Kami ingin menjaga dan melestarikan kesenian budaya Sasak yang sekarang ini tergerus dengan keberadaan teknologi," tandasnya.
Ke depannya, kata Hamzaeny yang akrab disapa Galih itu berharap lembaga ini bisa go internasional mengikuti kegiatan bertaraf nasional dan internasional.
Reporter : Rizky
Editor : Suhaedi

0 Komentar