Pemenang Sayembara Gedung Serbaguna Lotim Punya konsep 'Lumbung Besemeton'

Foto : Beginilah penampakan gedung serbaguna Lotim yang disayembarakan 

LOMBOK TIMUR - Panitia Sayembara Desain Gedung Serbaguna (SDGS) Lombok Timur tahun 2026 menetapkan Kamawardhana Heksa Putra satu dari 5 peserta finalis sebagai juara 1.

Dengan demikian, berhak baginya memperoleh hadiah sebesar Rp. 150 juta yang sudah dipersiapkan Pemkab Lotim. 

Heksawardhana finalis asal asal Surabaya Jawa Timur tersebut mempresentasikan model desain arsitektur bertema 'Lumbung Besemeton'. 

Sedangkan juara kedua dan ketiga diraih oleh Nabil Alamudi, ST, MT dan Gregorius Supie Yolodi. 

Nabil Alamudi merancang desain dengan konsep bernuansa 'Begawe Sundawa'. Sementara, Gregorius Supir Yolodi mempertahankan konsep hutan kota dengan rancangan 'The Forest Forum'.

Sebagai juara kedua, Nabil Alamudi berhak membawa pulang hadiah sebesar Rp. 100 juta. Sedangkan Gregorius memperoleh uang sebesar Rp. 75 juta plus tropi. 

Sedari awal, karya ilmiah desain gambar yang dipresentasikan para finalis dihadapan panitia SDGS 2026 terasa kompetitif. Gambar arsitektur dari semua finalis mencerminkan rancang bangun berdasarkan budaya lokal namun masih mempertahankan konsep hutan kota. 

Meski panitia sayembara menetapkan 3 orang pemenang, sejatinya, menjadi kewenangan Pemkab Lombok Timur untuk merealisasikan desain mana yang layak untuk dipakai sebagai gedung serbaguna.

Menurut salah satu pemenang sayembara SDGS, Nabil Alamudi, konsep rancangan yang dipresentasikan memiliki makna filosofis mendalam. 

Tema bangunan 'Begawe Sundawa' yang dipaparkannya memiliki ciri khas bagi masyarakat di Pulau Lombok.

Begawe dimaknai sebagai tempat beraktivitas, bergotong royong dan berinteraksi. Sedangkan, Sundawa bermakna kain khas tenun di Pringgasela salah satu desa di Lombok Timur.

"Bangunan ini punya filosofis keterkaitan antara begawe dan Sundawa yang nantinya akan menjadi identitas Kota Selong dan Kabupaten Lombok Timur secara umum," jelas Nabil Alamudy kepada wartawan, Kamis (11/6).

Dia menambahkan, konstruksi bangunan yang disajikan itu tak lepas dari makna kain tenun Pringgasela menggambarkan bentuk melengkung dan bergerak mengikuti zaman. Dan, bangunan tersebut diinterpretasikan secara geometris seolah-olah menjadi atap origami. 

"Konsep bangunan nantinya mengikuti pola tersebut," jelasnya.

Lalu, mengapa tidak mengikuti pola desain bangunan melambangkan struktur lumbung seperti pada umumnya?  Hal inilah yang dimaksud Nabil Alamudi bahwa simbol 'lumbung' merupakan hal biasa. Akan tetapi, dia mencoba untuk mengeksplorasi budaya Sasak diluar simbol lumbung.

Berdasarkan analisa yang disampaikannya, bentuk bangunan lumbung sudah ter-desain pada kantor Bupati Lombok Timur. Sehingga, bentuk bangunan gedung serbaguna sedikit lebih rendah dibanding kantor pusat pemerintahan Lombok Timur.

"Kita mencoba secara hirarki urban desain dimana bangunan gedung kantor bupati sedikit menonjol. Sedangkan gedung serbaguna sebagai pelengkap bangunan pemerintahan," ujarnya.

Demikian halnya dengan keberadaan taman kota Rinjani Selong dan hutan kota. Khusus taman kota Selong sengaja dibiarkan terbuka melambangkan transparansi.

Selain itu, kata dia, konsep hutan kota masih dipertahankan meski ada intervensi yang cukup minimal. Hal ini berkaitan dengan cost pengeluaran yang dinilai masuk akal.

Berbeda dengan konsep penataan food court yang nantinya dibangun disisi Timur gedung serbaguna. Lokasi tersebut nantinya menjadi titik sentral dari interaksi masyarakat.

Nabil mengangkat konsep food court 'Berugaq Sundawa'. Hal itu dimaksudkan selain tempat bersosialisasi dan kuliner, nantinya menjadi titik lokasi seni dan hiburan.

"Perpaduan ini menjadi satu kesatuan dimana masyarakat dapat berkumpul dan berinteraksi sosial namun menumbuhkan ekonomi," tandasnya.




Reporter : Suhaedi

0 Komentar