![]() |
| Foto : Kadis Pertanian Lotim, Lalu Fathul Kasturi, SP |
LOMBOK TIMUR - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan El Nino pemicu terjadinya musim kemarau yang panjang disebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan berlangsung hingga bulan Desember mendatang.
Diprediksikan bahwa puncak musim kemarau akan terjadi di bulan September 2026. El Nino Godzilla demikian sebutannya, bukanlah musim kemarau ekstrem. Tapi, tentunya berdampak pada musim tanam dan ketersediaan air.
Kabupaten Lombok Timur tak luput dari ancaman El Nino yang sebagian besar sudah dirasakan di sejumlah wilayah. Wilayah yang terdampak berada dibagian selatan dan timur.
Namun, Dinas Pertanian Lombok Timur telah memitigasi ancaman musim kemarau tahun ini. Meski dirasakan musik kemarau ini sangat kering, tapi masih berskala sedang.
Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur, Lalu Fathul Kasturi, SP meyakini, mitigasi yang dilakukan Dinas Pertanian menitikberatkan pada program-program dari kementerian. Diantaranya, menyiapkan sumber-sumber air, seperti pembuatan hippom yang saat ini sedang berjalan serta pembuatan saluran irigasi pertanian.
Kondisi ini kata Kasturi, masih adaptif untuk pertumbuhan tanaman terutama yang tidak membutuhkan banyak air.
"El Nino Godzilla tidak seperti El Nino pada tahun sebelumnya, walaupun terasa kering tapi tidak terlalu ekstrem. Dan hanya terjadi pada spot-spot tertentu dan tidak menyeluruh," jelas Kasturi, Selasa (4/8).
Mitigasi yang telah dilakukan berkoordinasi dengan leading sektor lainnya, baik itu Dinas PUPR Lotim yang memiliki kewenangan di bidang pengairan termasuk maupun Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk penyediaan dan distribusi air di Bendungan Pandan Dure.
"Ketersediaan air di musim kemarau ini tak lepas dari keberadaan Bendungan Pandan Dure. Ketika air dibutuhkan, jaringan irigasi dapat dibuka berdasarkan jadwal penggunaan air untuk dialirkan ke lahan pertanian milik masyarakat," paparnya.
Tak kalah pentingnya, pengerahan tenaga penyuluh pertanian untuk membantu sistem pengairan masyarakat sangat dibutuhkan disaat-saat ini.
Di wilayah selatan Lombok Timur misalnya, di Desa Ekas, Sekaroh, Seriwe dan Kecamatan Jerowaru dan sekitarnya, belum ada saluran irigasi. Tetapi, embung-embung yang telah dibangun untuk menampung air dapat dimanfaatkan.
"Keberadaan embung di Kecamatan Jerowaru umumnya untuk memanen air disaat musim hujan. Tidak adanya saluran irigasi yang dibuat lebih disebabkan faktor geografis, karena elevasinya lebih tinggi," tandas Kasturi.
Untuk itu, dia mengimbau kepada masyarakat agar menanam komoditas tanaman yang tahan terhadap kondisi kekeringan.
REPORTER : RIZKY
EDITOR : SUHAEDI

0 Komentar